Polisi Periksa Pihak Rumah Duka Abadi

36538
Beredar di media sosial foto nota pembayaran pelayanan Rumah Duka Abadi yang berlokasi di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang memungut harga pelayanan jenazah sampai Rp 80 juta.

JAKARTA, SIAPGRAK.COM – Polres Metro Jakarta Barat memeriksa pihak Rumah Duka Abadi terkait dugaan praktik kartel kremasi jenazah pasien Covid-19.

“Iya sudah kami panggil untuk klarifikasi,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono saat dihubungi, Rabu (21/7/2021).

BACA JUGA:  Tidak Transparan, LSM Komnas Tipikor Diminta Laporkan Kades Sei Raja

Joko mengatakan, dalam kasus tersebut, ada dua orang dari pihak rumah duka yang dipanggil dan keduanya kini masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik reskrim Polres Jakarta Barat. “Yang hadir ada dua orang tadi. Saat ini sedang diminta keterangan di Polres,” kata Joko.

Sebelumnya, informasi terkait kasus ‘kartel kremasi’ viral melalui pesan berantai WhatsApp. Melalui pesan berantai yang diberi judul ‘Diperas Kartel Kremasi’, korban bernama Martin, warga Jakarta Barat, mengatakan bahwa ibunya meninggal dunia pada 12 Juli 2021.

Petugas yang mengaku dari Dinas Pemakaman membantu mencarikan krematorium untuk ibunda dari Martin.

BACA JUGA:  Kodam XVII/Cenderawasih Terima Satgas Pamtas RI-PNG

Salah satu petugas itu disebut memberi tawaran paket kremasi senilai Rp 48,8 juta di Karawang. Martin mengaku terkejut dengan biaya yang disebutkan petugas. Pasalnya, enam minggu sebelumnya, kakak Martin meninggal dunia dan dikremasi dengan biaya tak sampai Rp 10 juta.

Dua minggu setelahnya, besan dari kakak Martin dan anak perempuannya juga meninggal dunia akibat Covid-19. Saat itu biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 24 juta per orang.

BACA JUGA:  DPRD Pultab Semprot Kadis Kesehatan, Ada Apa?

Kemudian, Martin menyatakan, pihak yang dulu mengurus kremasi kakaknya menawarkan jasa kremasi, tetapi tarifnya melonjak jadi Rp 45 juta. Beberapa pihak lainnya yang mengurus kremasi juga menawarkan jasa dengan tarif bervariasi, dari Rp 45 juta sampai Rp 55 juta.

Martin dan keluarganya, yang terdesak karena harus segera memindahkan jenazah dari rumah sakit, lalu memilih untuk melakukan kremasi di Karawang, yakni krematorium yang ditawarkan petugas yang mengaku dari Dinas Pemakaman.

BACA JUGA:  Warga Tolok Keluhkan Jalan, Dandim Sambas Jelaskan Program TMMD

Sayangnya, petugas mengatakan bahwa slot kremasi di Karawang sudah diambil orang lain. Namun, petugas mengatakan bahwa kawannya akan mencarikan tempat lain.

Tak lama, petugas tersebut mengabarkan bahwa ia mendapat slot kremasi untuk lima hari ke depan di krematorium pinggir kota dengan biaya Rp 65 juta.

Segera kami mengerti bahwa kartel telah menguasai jasa mengkremasi sanak family korban C-19 dengan tarif 45 sd 65 juta,” kata Martin.

BACA JUGA:  Jalan di Ibu Kota Rusak, Kadis PUPR Taliabu Cuek

Akhirnya, Martin sekeluarga memutuskan untuk mengkremasi jenazah ibunya di Cirebon.

Keesokan harinya, sambil menunggu giliran kremasi ibunya, Martin berbincang dengan pengurus kremasi. Pihak pengurus kremasi mengatakan bahwa hanya ada satu harga kremasi, yakni Rp 2,5 juta.

BACA JUGA:  Batalyon Kesehatan TNI Bantu Pengobatan Korban Gempa Sulbar

Namun, biaya tambahan memang dikenakan ketika harus melakukan kremasi dengan prosedur Covid-19. Pasalnya, harus ada pengadaan alat pelindung diri (APD), penyemprotan, dan lain-lain. Tetapi, biaya tambahan hanya beberapa ratus ribu rupiah saja.

Betapa nyamannya kartel ini ‘merampok’ keluarga yang berduka, karena biaya peti dan biaya mobil jenazah (satu mobil dua jenazah) harusnya tidak sampai Rp 10 juta,” kata Martin.

BACA JUGA:  Bupati Hendrata Thes Disuntik 'Kamuka' Vaksin Covid-19

Mereka ini hanya berbekal telefon saja dan bisa booking slot di krematorium, tidak perlu nongol sementara orang lapangan, orang kecil, yang bekerja dan tidak merasakan tetesan keuntungan ini,” imbuhnya.

Selanjutnya, pada 17 Juli 2021, istri Martin mendapat kabar bahwa kenalan dari keluarganya meninggal dunia akibat Covid-19.

Awalnya, pihak keluarga berniat melakukan kremasi. Namun, niat itu diurungkan lantaran biaya yang dibebankan adalah Rp 80 juta. Itu pun harus mengantre beberapa hari. Akhirnya, pihak keluarga memutuskan untuk mengubur jenazah di TPU Rorotan yang tak dipungut biaya apa pun.

BACA JUGA:  Awali Tahun Baru, Satgas Yonif MR 413 Kostrad Gencar Pengobatan Keliling di Kampung Perbatasan RI-PNG

Sementara itu, rumah duka Abadi membantah telah menetapkan tarif kremasi jenazah sebesar Rp 45 juta. Rumah duka itu menyatakan tidak memiliki layanan kremasi jenazah.

“Bisnis kami itu ambulans, peti, dan rumah persemayaman. Tidak ada kremasi,” kata Business Development Rumah Duka Abadi, Indra Paulus, Senin.

BACA JUGA:  Penegak Hukum Diminta Usut Dugaan Proyek Bermasalah di Sula

Ia menyampaikan bantahan itu terkait dengan kabar yang beredar di media sosial. Di media sosial beredar foto nota pembayaran pelayanan Rumah Duka Abadi di Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Dalam nota yang beredar itu tertera total tagihan dari rumah duka sebesar sebesar Rp 80 juta. Rinciannya untuk peti jenazah Rp 25 juta, transportasi Rp 7,5 juta, kremasi Rp 45 juta, dan pemulasaraan Rp 2,5 juta. Nota itu berkop Rumah Duka Abadi.

BACA JUGA:  KPU Pultab Gelar Rapat Pleno Pemuktahiran Data Pemilih Berkelanjutan

Indra menyatakan benar bahwa nota itu dikeluarkan pihaknya. Namun, layanan kremasi jenazah dilakukan pihak ketiga, bukan oleh pihaknya. Pihaknya hanya membantu dalam menghubungkan pihak keluarga jenazah dengan krematorium.

Sekitar seminggu lalu, pihaknya memang menerima permintaan dari sebuah keluarga untuk dicarikan layanan kremasi. Jika ada pelanggan yang meminta layanan kremasi, Rumah Duka Abadi biasanya merujuk ke dua tempat kremasi, yakni Oase dan Sentra Medika.

BACA JUGA:  DPRD Pultab Semprot Kadis Kesehatan, Ada Apa?

Menurut Indra, harga kremasi di Oase antara Rp 15 juta-Rp 20 juta, sedangkan di Sentra Medika seharga Rp 28,8 juta. Namun, kedua lokasi tersebut sedang terisi penuh saat keluarga itu meminta bantuan dicarikan layanan kremasi.

Pihak rumah duka lalu menawarkan untuk menggunakan layanan penguburan di TPU. Namun, pihak keluarga tetap ingin jenazah dikremasi. Lantaran pihak keluarga mendesak, rumah duka menghubungi krematorium yang menawarkan jasa kremasi di Cirebon, Jawa Barat, dengan tarif Rp 45 juta.

BACA JUGA:  Penegak Hukum Diminta Usut Dugaan Proyek Bermasalah di Sula

Pihak keluarga menyanggupi untuk membayar layanan dengan harga tersebut. Lantaran sudah sepakat, diterbitkanlah nota pembayaran yang kemudian viral di media sosial tersebut. Tarif Rp 45 juta itu, kata Indra, mencakup biaya kremasi, larung, guci, dan layanan doa.

Indra menyatakan, antrean jenazah di krematorium terjadi mulai Juli 2021. Jenazah harus menunggu satu minggu sebelum dapat giliran untuk dikremasi. (Nt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here